Eksplorasi Pasar Malam Tradisional: Panduan Menikmati Street Food Khas Daerah dengan Aman dan Higenis

themagazinescope.com – Pasar malam itu godaannya banyak. Ada asap sate, bau gula karamel, antrean kerak telor, dan lampu yang bikin semua jajanan kelihatan enak. Tapi di sebuah acara pasar malam, kamu hampir tidak bisa memeriksa dapur penjualnya. Karena itu, kebiasaan memilih lapak dan cara memilih jajanan jadi penentu utama apakah pulangnya bawa kenangan atau malah diare.

Panduan ini merangkum cara membaca lapak, memilih makanan yang risikonya lebih rendah, dan mengenali tanda bahaya. Dasarnya adalah pedoman keamanan pangan dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI.

Kenapa Street Food Perlu Dipilih dengan Cermat

Street food tidak otomatis berbahaya, dan banyak jajanan kaki lima dibuat dengan baik. Masalahnya, kondisi lapak sering terbatas: air bersih terbatas, tempat cuci tangan jauh, dan makanan berjam-jam terpapar udara terbuka.

Menurut WHO, sekitar 866 juta orang di dunia jatuh sakit setiap tahun karena makanan tercemar, dengan sekitar 1,52 juta kematian (estimasi 2021). WHO juga menyebut angka itu kemungkinan masih di bawah kenyataan karena banyak kasus tidak dilaporkan. Gejala yang paling umum adalah mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Anak di bawah 5 tahun, lansia, ibu hamil, dan orang yang sedang sakit lebih rentan.

Laporan WHO soal street food di Vietnam juga menyebut penyakit pencernaan dengan diare sebagai masalah paling umum, dengan penyebab utama kebersihan yang buruk dan tidak menerapkan prinsip keamanan pangan dasar. Konteksnya Vietnam, tapi polanya relevan untuk pasar malam mana pun.

Mengenal Pasar Malam dan Jajanan Khasnya

Pasar malam bentuknya beragam: pasar rutin mingguan, bazar musiman, sampai festival kuliner. Contoh yang bisa dilihat adalah Pasar Kangen Malioboro (Kangen Dolan #3) di Teras Malioboro, Yogyakarta. Acara ini berlangsung 27 Mei sampai 1 Juni 2026, buka setiap hari pukul 15.00 sampai 22.00 WIB, dengan tiket masuk gratis. Menurut satu sumber, harga makanannya berkisar Rp5.000 sampai Rp30.000 dan pembayaran bisa tunai atau QRIS.

Yang menarik, menunya lintas daerah:

  • Sate bekicot khas Kediri
  • Tahu petis khas Semarang
  • Kerak telor khas Betawi
  • Permen gulali
  • Bir Jowo, minuman herbal jahe dan lemon

Jadi satu acara bisa memuat jajanan dari banyak daerah. Menu dan jadwal setiap pasar malam berbeda dan sering berubah, jadi cek info terbaru dari penyelenggara sebelum berangkat.

Lima Prinsip WHO yang Bisa Dipakai di Pasar Malam

WHO punya “Five Keys to Safer Food” yang berlaku di rumah, restoran, maupun pasar. Kelimanya bisa diterjemahkan jadi hal yang bisa kamu amati langsung:

Prinsip WHO Yang bisa kamu amati di lapak
Jaga kebersihan Penjual dan alatnya bersih, ada air untuk cuci tangan, tidak menyentuh uang lalu makanan tanpa pelindung
Pisahkan bahan mentah dan matang Daging atau seafood mentah tidak bersebelahan dengan makanan siap santap
Masak sampai matang Makanan dimasak di depan mata, panas dan mengepul
Jaga suhu aman Makanan panas tetap panas, bukan hangat-hangat kuku di wadah terbuka
Gunakan air dan bahan baku aman Es, minuman, dan bahan terlihat segar dan bersumber jelas

Catatan: halaman WHO yang saya buka hanya menampilkan judul kelima prinsip tersebut. Penjabaran tabel di atas adalah penerjemahan praktis ke situasi pasar malam, bukan kutipan WHO.

Checklist Memilih Lapak

Kepmenkes No. 942/MENKES/SK/VII/2003 tentang pedoman persyaratan higiene sanitasi makanan jajanan memuat kriteria yang bisa kamu jadikan checklist. Berikut yang paling mudah dinilai dari luar:

Penjualnya

  • Tampak sehat, tidak batuk, pilek, atau diare
  • Luka tertutup
  • Tangan, rambut, dan kuku bersih
  • Pakai celemek dan penutup kepala
  • Memakai sendok, penjepit, atau sarung tangan saat mengambil makanan
  • Tidak merokok atau menggaruk saat melayani

Makanan

  • Tertutup atau terbungkus, bukan terbuka lama diterpa debu dan lalat
  • Bahan terlihat segar
  • Makanan siap santap dipisah dari bahan mentah
  • Kemasan produk bermerek punya label dan belum kedaluwarsa

Peralatan dan air

  • Piring, gelas, dan alat dicuci dengan sabun dan air bersih
  • Barang sekali pakai tidak dipakai ulang
  • Ada air bersih untuk mencuci
  • Air untuk minuman dimasak sampai mendidih

Lingkungan

  • Ada tempat sampah dan saluran air limbah
  • Jauh dari sumber pencemar seperti selokan atau tumpukan sampah
  • Tidak banyak lalat

Kepmenkes yang sama menyebut makanan siap santap yang sudah lebih dari 6 jam sebaiknya diolah ulang. Kamu tidak bisa tahu kapan makanan dimasak, tapi lapak yang ramai dengan perputaran cepat biasanya menyajikan makanan yang lebih baru.

Tanda Aman dan Tanda Waspada

Aspek Lebih meyakinkan Perlu waspada
Antrean Ramai, makanan cepat habis dan diganti baru Sepi, makanan sudah lama dipajang
Cara memasak Dimasak atau digoreng saat dipesan Hanya dihangatkan, berbau tidak segar
Penyajian Tertutup, pakai alat capit Terbuka, dipegang tangan langsung
Warna Warna wajar Warna terlalu mencolok
Aroma dan rasa Wajar Bau menyengat atau rasa tidak lazim
Pembayaran Orang berbeda pegang uang dan makanan Satu orang pegang uang lalu makanan tanpa cuci tangan

Kemenkes menyarankan membeli di tempat yang bersih, memilih makanan terbungkus atau tertutup, menghindari makanan berwarna terlalu mencolok atau berbau/berasa tajam yang tidak biasa, dan membaca label (komposisi, tanggal kedaluwarsa, kode produksi). Untuk makanan basah, perhatikan bau dan warna.

Soal bahan berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan metanil yellow, ciri fisik seperti warna terlalu mencolok atau tekstur janggal hanya petunjuk awal. Hanya uji laboratorium yang bisa memastikan. Jadi anggap ini alasan untuk berhati-hati, bukan alat deteksi.

Strategi Praktis Saat Menjelajah

  1. Keliling dulu, baru beli. Satu putaran penuh membantu membandingkan kebersihan lapak sebelum kamu lapar mata.
  2. Pilih yang dimasak saat itu juga. Gorengan yang baru diangkat, sate yang baru dibakar, dan kerak telor yang dimasak di depan matamu umumnya lebih aman daripada makanan yang sudah lama menunggu.
  3. Hati-hati dengan makanan mentah atau setengah matang. Prinsip “masak sampai matang” dari WHO relevan, terutama untuk daging, seafood, dan telur.
  4. Minuman: lebih baik yang kemasannya jelas. Kepmenkes mensyaratkan air untuk minuman dimasak sampai mendidih. Kamu tidak bisa memastikan itu di lapak, dan Kemenkes tidak membahas es, jadi kalau ragu soal es, pilih minuman kemasan atau tanpa es.
  5. Bawa hand sanitizer atau tisu basah. Fasilitas cuci tangan di pasar malam sering terbatas. Cuci tangan dengan sabun tetap lebih baik bila ada.
  6. Beli porsi kecil dan bagi-bagi. Kamu bisa mencicipi lebih banyak jenis, dan kalau ada yang bermasalah, dampaknya lebih kecil.
  7. Jangan ragu pergi. Kalau sesuatu terasa janggal, tinggalkan. WHO menyebut bahwa konsumen yang menghindari lapak tidak bersih ikut mendorong penjual memperbaiki diri.

Kelompok yang Perlu Ekstra Hati-hati

Anak kecil, ibu hamil, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan terhadap infeksi dari makanan. WHO mencatat anak di bawah 5 tahun menanggung 29% beban kesehatan akibat pangan tidak aman. Untuk ibu hamil, WHO menyebut risiko seperti keguguran akibat Listeria. Kalau kamu termasuk kelompok ini, pilih makanan yang jelas matang dan panas, dan tanyakan ke dokter bila ragu. Artikel ini informasi umum, bukan pengganti saran medis.

Kalau Sudah Terlanjur Sakit Perut

Diare ringan biasanya bisa ditangani dengan banyak minum cairan. Segera ke fasilitas kesehatan bila ada tanda dehidrasi, muntah terus-menerus, demam tinggi, tinja berdarah, atau gejala tidak membaik, terutama pada anak, lansia, dan ibu hamil. Menurut WHO, diare dan muntah hebat bisa dengan cepat menyebabkan dehidrasi berat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *