Tren Kuliner Kekinian yang Semakin Populer di Kalangan Anak Muda

themagazinescope.com – Jajan bagi anak muda sekarang bukan cuma urusan kenyang. Sebelum suapan pertama, makanan sudah difoto, direkam, dan diunggah ke TikTok atau Instagram. Sebuah menu baru bisa ramai dibicarakan dalam hitungan hari, lalu antreannya mengular di depan gerai.

Artikel ini membahas apa saja tren kuliner kekinian yang sedang digemari, apa yang mendorong anak muda mencobanya, dan apa yang perlu diperhatikan agar tren ini tetap sehat dan berkelanjutan.

Seperti Apa Kuliner Kekinian Itu?

Kuliner kekinian biasanya punya tiga ciri: tampilan menarik difoto, rasa atau konsep yang terasa baru, dan cepat dibicarakan di media sosial. Sebuah kajian tentang Gen Z menyebut makanan dengan presentasi menarik dan cita rasa unik sebagai bagian dari tren yang menarik minat generasi ini.

Karena itu, menu kekinian sering lahir dari perpaduan dua hal yang sudah dikenal. Croissant bertemu waffle jadi croffle. Kopi bertemu susu dan gula aren jadi es kopi susu. Hasilnya terasa familiar, tapi cukup berbeda untuk dicoba.

Tren yang Sedang Ramai

Matcha dan Minuman Berbasis Rasa Lokal

Matcha kini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z dan milenial Indonesia. Warna hijaunya yang estetik, pengaruh influencer di TikTok dan Instagram, serta rasa pahitnya yang mudah dipadukan dengan bahan lain ikut mendorong popularitasnya. Banyak kafe bahkan menyajikan menu bertema matcha dari minuman sampai camilan.

Yang menarik, matcha tidak berhenti di gaya Jepang. Di Indonesia muncul varian seperti matcha klepon, matcha dengan taburan kelapa parut, dan matcha pandan latte yang memadukan cita rasa lokal dengan estetika global.

Pola serupa terlihat pada kopi. Kopi rasa klepon dengan santan, gula kelapa, dan ketan menjadi contoh bagaimana jajanan tradisional diolah ulang menjadi minuman kekinian.

Camilan Hibrida dan Dessert Visual

Croffle menjadi salah satu camilan yang naik daun di kalangan Gen Z, begitu pula es kopi susu yang harganya relatif terjangkau. Makanan Korea juga masih punya tempat, terutama sejak drama Korea sering menampilkan hidangannya. Smoothie bowl menarik bagi mereka yang ingin camilan yang terasa lebih ringan.

Di sisi lain, Gen Z juga menyukai kombinasi rasa yang berani, misalnya matcha yang dipadukan dengan ayam goreng dan sempat viral di media sosial.

Kuliner Tradisional dengan Wajah Baru

Anak muda tidak sepenuhnya meninggalkan makanan tradisional. Sebuah penelitian tentang Gen Z Bali menyimpulkan bahwa generasi ini masih mencintai cita rasa kuliner tradisionalnya, bahkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

Pemerintah juga ikut mendorong. Kemenpar menggelar Wonderful Indonesia Gastronomy Culinary Festival 2026 di 32 pusat perbelanjaan, 7 Oktober sampai 1 November 2026. Salah satu pesan para pegiat kuliner di sana adalah bahwa inovasi boleh dilakukan selama anak muda memahami asal-usul makanannya.

Sejalan dengan itu, laporan Tastewise menyebut makanan semakin menjadi cara orang menunjukkan identitas, mulai dari asal budaya sampai nilai hidup. Bagi UMKM kuliner lokal, ini peluang untuk mengemas rasa nusantara agar menarik bagi generasi muda.

Mengapa Anak Muda Mudah Terpikat?

Survei Populix terhadap 1.100 responden milenial dan Gen Z pada Februari 2025 memberi gambaran yang menarik:

  • Sebanyak 14% responden laki-laki mengaku mencoba setiap kali ada tren baru, dan 29% mengeksplorasi rasa baru setidaknya sebulan sekali.
  • Responden perempuan lebih terdorong FOMO. Sekitar 30% mencoba kuliner baru karena tertarik tren di media sosial.
  • Rekomendasi influencer dan food blogger cukup berpengaruh, tetapi anak muda lebih memercayai rekomendasi teman dan keluarga.

Artinya, viral di media sosial memang bisa membuka pintu, tetapi pengalaman dan cerita dari orang terdekat yang menentukan apakah orang akan kembali.

Sisi yang Perlu Diwaspadai

Tren minuman manis mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Seorang dosen Universitas Airlangga mengingatkan bahwa minuman kekinian sebaiknya tidak dikonsumsi setiap hari karena kandungan gulanya dapat berdampak pada metabolisme tubuh. Dalam kajian yang sama, pembicara dari sisi ekonomi menilai kehadiran minuman kekinian positif karena memenuhi kebutuhan pasar, sementara pemerintah dinilai lebih tepat membuat kebijakan seperti kewajiban mencantumkan kadar gula pada kemasan daripada melarang.

Ada juga arah baru yang mulai dibicarakan. Sejumlah laporan menyebut Gen Z dan Gen Alpha mulai mencari manis yang lebih terkendali, misalnya lewat pemanis rendah kalori atau opsi gula yang bisa disesuaikan di kafe. Ini masih berupa gambaran tren, jadi belum bisa dianggap sebagai perubahan perilaku yang merata.

Beberapa kebiasaan sederhana bisa membantu:

  • Pilih level gula yang lebih rendah saat memesan.
  • Selang-seling antara minuman manis dan air putih atau teh tanpa gula.
  • Jadikan menu viral sebagai sesekali, bukan rutinitas harian.

Peluang bagi Pelaku Usaha Kuliner

Bagi pemilik usaha, tren ini memberi beberapa pelajaran praktis. Tampilan visual memang penting, tetapi rasa dan konsistensi yang membuat pelanggan kembali. Menggabungkan bahan atau jajanan lokal dengan format modern terbukti menarik perhatian, seperti klepon yang menjadi minuman atau matcha berbalut pandan. Terakhir, karena anak muda lebih percaya pada rekomendasi orang terdekat, pengalaman pelanggan yang baik sering kali lebih efektif daripada promosi besar-besaran.

Penutup

Kuliner kekinian adalah cerminan cara anak muda makan sekaligus bersosialisasi: berburu hal baru, berbagi di media sosial, dan sesekali bernostalgia lewat rasa lokal. Tren akan terus berganti, tetapi polanya cukup konsisten. Yang bertahan biasanya menu yang punya identitas, rasa yang jujur, dan cerita yang mudah dibagikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *